Selasa, 21 Agustus 2018
Find us: 
mahardikanews.com, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik
Home  / Budaya
Jumat, 18 Mei 2018 | 08:12:18
Advertorial Pemkab Rokan Hulu
Hadiri Acara Mandai Ulu Taon, Bupati Rohul : Tradisi Adat Harus Dilestarikan
Humas Setda Rohul
Bupati Sukiman saat menyampaikan sambutan pada acara adat Mandai Ulu Taon, Rabu 25-4-2018 di Bagas Rarangan Huta Haiti, Desa Rambah Tengah Barat,  Kec Rambah, Kab Rokan Hulu

Pasir Pengaraian (Mahardikanews) Dihadiri Bupati Rokan Hulu (Rohul), H Sukiman, Ribuan warga Mandaliling dari Napitu Huta (tujuh kampung) se-Kabupaten Rohul, Rabu (25/4) gelar acara adat Mandai Ulu Taon (makan bersama) di Bagas Rarangan Huta Haiti, Desa Rambah Tengah Barat, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rohul.

Selain bupati, juga hadir Ketua DPRD Kelmi Amri SH, dan sejumlah anggota DPRD Rohul lainnya, para Raja Napitu Huta yang dikenal Sutan Naopat Mangaraja Natolu serta Sutan Maratur Mangaraja Marbaris, Raja Melayu dari Luhak Rambah, unsur Forkopimda, para pejabat di lingkungan Pemkah Rohul, mantan Sekda Syarifuddin Nasution, Camat Rambah, Kades dan para perangkat Desa Rambah Tengah Barat serta perangkat Desa Sialang Jaya.


Bupati dalam sambutannya mengatakan tradisi Mandai Ulu Taon tersebut harus dilestarikan, karena merupakan ciri khas dan dilangsungkan secara turun temurun oleh masyarakat Napitu Huta. Juga sebagai bentuk solidaritas terhadap adat yang diwariskan oleh nenek moyang Boru Namora Suri Andung Jati. Juga dimaksudkan untuk mengenang sejarah perjuangan anak seorang Raja Mandailing yakni Boru Namora Suri Andung Jati. Oleh karenanya tradisi adat ini akan dijadikan menjadi agenda tahunan, pungkas bupati

Ketua panitia Damri Nasution mengungkapkan, Mandai Ulu Taon digelar atas peran serta seluruh warga Napitu Huta, dan sudah digelar sejak lama. Sebagai bentuk syukur kepada sang pencipta, dengan harapan agar hasil pertanian masyarakat semakin meningkat, ungkapnya. 

Dari cerita berkembang di kalangan warga Mandailing sebut Damri, raja perempuan Boru Namora Suri Andung Jati bermarga Nasution, adalah seorang raja dari sebuah kerajaan di Padang Galugur-Panyabungan (Tapanuli Selatan) di abad XIV. Guna menghindari perang, Boru Namora Suri Andung Jati mengungsi dan membawa pengikutnya ke tanah melayu yakni Pasir Pengaraian yang dahulunya disebut dengan sebutan "Pasir Panggorean". Kemudian mendirikan sebuah perkampungan yang diberi nama Huta Haiti sekitar 3 kilometer dari Pasir Pengaraian sebagai pusat kota Kabupaten Rohul dengan Panglima Perang seorang  Raja Perempuan yakni Sutan Laut Api yang juga marga Nasution.  

Saat kerajaan Rambah berperang dengan kerajaan Melayu Rokan, warga Mandailing dipimpin Boru Namora Suri Andung Jati turut membantu dan kerajaan Rambah memenangkan peperangan.Sebagai ungkapan rasa terima kasih, Raja Rambah menghadiahkan tanah wulayat dengan istilah "Tanah Sebingkah-Aur Serumpun" ke setiap kampung Mandailing Napitu Huta, terang Damri yang bergelar Maraja Huta Tinggi. 

Raja-raja di Napitu Huta antara lain, Sutan Laut Api (Marga Nasution) di Huta Kubu Baru, Sutan Tuah (Marga Nasution) di Huta Haiti, Sutan Silindung (Marga Nasution) di Huta Tangun, Sutan Kumalo Bulan (Marga Nasution) di Huta Menaming, Mangaraja Liang (Marga Nasution) di Huta Tanjung Berani, Mangaraja Liang (Marga Nasution) di Huta Sunge Pinang, Mangaraja Timbalan (Marga Lubis) di Huta Pawan.

Kades Rambah Tengah Barat, Sofian Daulay, mengatakan keunikan tradisi Mandai Ulu Taon yakni makan bersama menggunakan daun pisang sebagai tempat nasi bagi seorang raja maupun warga biasa, tandasnya.  (adv/humas)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.mahardikanews.com
Tinggalkan Komentar
Nama*:
Email*:
Website:
Komentar*:
: * Masukkan kode disamping!