Sabtu, 20 April 2019
Find us: 
mahardikanews.com, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik
Home  / Budaya
Senin, 14 Januari 2019 | 22:17:57
Bupati Rohul Harap Peran Generasi Muda Lestarikan Budaya Melayu
MARUBA P HABEAHAN
Kuliah umum tentang melestarikan budaya Melayu, sekaligus penetapan lokasi seni budaya 7 suku besar, di Convention Hall Masjid Agung Islamic Centre, Senin (14/1/2019) pagi.
Pasir Pengaraian 
(mahardikanews) 
Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) dan Universitas Pasir Pengaraian (UPP), mengadakan acara Kuliah umum tentang peran generasi dalam melestarikan budaya Melayu Rohul, sekaligus penetapan lokasi pusat pengembangan seni budaya 7 (tujuh) suku besar di daerah Kabupaten Rohul.

Bupati Rohul, H Sukiman, mengatakan kemajuan teknologi sangat mempengaruhi tata budaya daerah. Oleh sebab itu harus memperkuat budaya ketimuran.

‎Menurutnya, kajian budaya yang pertama kali dilaksanakan sangat positif, karena memberikan kesempatan dalam mengembangkan seni budaya dan khasanah budaya di Kabupaten Rohul.

‎"Ini (kuliah umum) sangat penting. Pertama, untuk mengenal jati diri Melayu Rohul sebenarnya", ucap Sukiman, usai peluncuran Tari Tepak Sirih yang sebelumnya bernama Tari Persembahan, ditampilkan oleh mahasiswi UPP, sekaligus Pengenalan buku terjemahan Auf Neuen Wegen Durch Sumatra Max Mozkowski, di Convention Hall Masjid Agung Islamic Centre, Senin (14/1/2019) pagi.

Bupati menilai, Tari Tepak Sirih yang dilaunching bisa menambah jumlah budaya dan seni di Kabupaten Rohul, dan dijadikan sebagai destinasi wisata di daerah yang berjuluk Negeri Seribu Suluk.

Untuk menjadikan seni dan budaya Melayu Rohul sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah, Bupati akan memprediksi terlebih dahulu bagaimana progres dan perkembangannya kedepan.

Dia mengaku, mendukung sepenuhnya demi kebaikan kegiatan, agar 'Peran Generasi Muda dalam Melestarikan Budaya Melayu Rohul' sebagai tema acara itu berjalan kontinu atau berkelanjutan, dan kedepan hanya tinggal menyiapkan sarana dan prasarana sebagai pendukung.

Budaya dan seni, juga Diharapkannya, dapat disesuaikan dan dikembangkan dengan paguyuban, kekerabatan‎ dan kekompakan, guna meningkatkan kebersamaan dalam membangun Negeri Seribu Suluk yang beragam suku, agama dan budaya‎.

Sementara, Rektor UPP Dr Adolf Bastian, mengatakan kreasi yang dilahirkan UPP untuk menggantikan nama Tari Persembahan menjadi Tari Tepak Sirih agar lebih mengarah kepada Melayu Deli.

Hal itu, terangnya, sebagai wujud kerja sama prakarsa kampus UPP dengan Disparbud yang melahirkan kolaborasi dalam pengembangan budaya Rokan Hulu.

"Yang kita gali dari nilai-nilai di Rohul ini munculah Tari Tepak Sirih. Insya Allah, akan menjadi pengganti Tari Persembahan. Kampus juga akan bertanggungjawab melestarikan budaya-budaya yang ada di Rohul, sehingga kemajemukan daerah lebih menyatu dibawah tuan rumah budaya itu sendiri yaitu Budaya Melayu", ujar Adolf, dihadapan Dandim 0313/KPR Letkol Inf Aidil Amin, para pejabat Pemkab Rohul, mahasiswa, serta paguyuban.

Selain itu, Adolf Bastian menyatakan kampus UPP juga sudah menerapkan mata kuliah budaya Melayu untuk 1 semester. Seluruh mahasiswa UPP disetiap program studi atau prodi, kini diwajibkan mengikuti‎ mata kuliah budaya Melayu, diiringi diskusi tentang budaya lain yang hidup dan berkembang di Kabupaten Rohul.

"Sehingga generasi muda kedepan‎ harus mampu bergaul dan berinteraksi dengan suku-suku lain dengan mempelajari budaya di suku lain tersebut, untuk menjamin keberlangsungan daerah yang majemuk, dalam bingkai NKRI", tandas Rektor UPP Adolf Bastian, di depan 2 Tokoh Budaya dan Cendekiawan Riau asal Rohul, Dr Al Azhar dan Dr drh H Chaidir.

Sedangkan menurut Kepala Disparbud Rohul Drs Yusmar,‎ kuliah umum dan pentas seni sebagai ruang untuk bergerak.

Tujuan utama, kata Yusmar, adanya ruang untuk berkembang dan Melayu sebagai induk. Namun tidak menampikkan bahwa paguyuban dan kekerabatan yang harus dikembangkan, dan menjadi kewajiban pemerintah daerah memperhatikannya.

"Ibarat kita disatu rumah, saya bisa mencontohkan, paguyuban dan kekerabatan masih di ruang tamu. Nah sekarang kita dapat berikan kamar, supaya rumah ini rasanya milik bersama, yang harus kita jaga bersama, yang harus kita bangun bersama untuk memajukan dan memelihara rumah ini, baik ancaman dari dalam dan rumah agar rukun, damai dan kekeluargaan", jelas Kepala Disparbud Yusmar.

Mantan Kabag Humas Setdakab Rohul itu, memastikan kedepan akan melibatkan mahasiswa sebagai kaum intelektual, agar pengembangan budaya dan seni Melayu Rohul pada generasi muda tercapai sesuai harapan bersama.*(maruba p habeahan)
Akses berita terbaru versi mobile di: m.mahardikanews.com
Tinggalkan Komentar
Nama*:
Email*:
Website:
Komentar*:
: * Masukkan kode disamping!