Rabu, 24 Januari 2018
Find us: 
mahardikanews.com, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik
Home  / Internasional
Rabu, 5 Agustus 2015 | 18:04:19
AMM ke-48, Indonesia Usung Tema Maritim

​Kuala Lumpur, mahardikanews.com - Indonesia mengusung tiga tema dalam ASEAN Ministerial Meeting (AMM) ke-48 yaitu mainstreaming maritime diplomacy, perlindungan pekerja migran dan mendorong aksesi negara-negara pemilik senjata nuklir terhadap protokol Southeast Asian Nuclear-Weapon-Free-Zone (SEANWFZ). Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno LP Marsudi, di sela-sela rangkaian AMM ke-48, kemarin (3/8), di Putra World Trade Center, Kuala Lumpur.
 
Pada kesempatan tersebut, Menlu Retno menyebutkan bahwa terdapat 28 pertemuan yang akan dilakukan Indonesia sepanjang rangkaian AMM ke-48. Sebanyak 16 di antaranya termasuk dalam rangkaian AMM itu sendiri sementara 12 pertemuan merupakan pertemuan bilateral yang kemungkinan akan bertambah seiring dengan perkembangan yang ada. Sementara itu, dalam mengusung tema diplomasi maritim, Indonesia telah mencoba menyusun EAS Statement on Maritime Cooperation in the Asia Pacific dengan harapan akan mendapatkan dukungan negara-negara East Asia Summit (EAS) sebagai upaya mainstreaming maritime diplomacy di ASEAN.

Perlindungan Pekerja Migran
 
Mengenai tema perlindungan pekerja migran, ASEAN sudah mempunyai ASEAN Declaration on the Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers yang dilanjutkan dengan pembentukan ASEAN Committee on the Implementation of the ASEAN Declaration on the Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers (ACMW).
 
Namun demikian, dikutip dari Kemlu RI, Menlu Retno menegaskan bahwa Indonesia akan tetap berupaya untuk mendorong negara-negara ASEAN agar mempunyai instrumen yang mengikat secara hukum untuk melindungi para pekerja migran.Sementara mengenai isu nuklir, Indonesia akan mengangkat kembali mengenai perlunya negara-negara pemilik senjata nuklir melakukan aksesi terhadap protokol SEANWFZ agar wilayah Asia Tenggara bebas dari senjata nuklir.

Menlu Lakukan Beberapa Pertemuan Bilateral
 
Adapun rangkaian pertemuan yang sudah dilakukan Menlu Retno, kemarin (3/8) adalah pertemuan dengan Ketua Global Movement of Moderates (GMM), Tan Sri Razali, pertemuan ASEAN dengan Komisi SEANWFZ dan ASEAN Foreign Ministers’ Meeting Interface AICHR Representatives.
 
Dalam pertemuan dengan Tan Sri Razali, Menlu Retno menyampaikan bahwa kedua pihak akan bekerja sama untuk melakukan semacam roundtable di Jakarta yang kemungkinan akan dilakukan sebelum akhir tahun 2015.
 
Pada pertemuan dengan Komisi SEANWFZ, Indonesia menekankan kembali pentingnya pencapaian tujuan utama dari SEANWFZ Treaty yaitu menjadikan kawasan Asia Tenggara sebagai kawasan yang bebas senjata nuklir. Selain itu, Indonesia juga mendorong implementasi secara penuh dari rencana aksi SEANWFZ Treaty serta mendorong negara-negara pemilik senjata nuklir untuk segera melakukan aksesi kepada protokol SEANWFZ.
 
Sebagai penutup dari rangkaian pertemuan yang dilakukan para Menlu ASEAN, kemarin (3/8) adalah pertemuan dengan wakil-wakil AICHR. Dalam pertemuan tersebut, Indonesia mendorong agar dalam tahun kelima sejak pembentukannya, mandat AICHR dapat diperkuat yaitu selain mempromosikan HAM namun juga dilakukan perlindungan HAM. Selain itu, Indonesia juga memberikan dukungan terhadap program kerja AICHR untuk lima tahunkedepan, 2016 – 2020.
 
Sebagai upaya untuk mainstreaming AICHR agar dapat benar-benar terhubung dengan masyarakat ASEAN, maka Indonesia juga mendukung progress kerja AICHR, khususnya mengenai pendirian Dedicated Human Rights Division dalam ASEAN Secretariat. Selain itu, Indonesia juga mendukung penguatan Terms of Reference yang berdasarkan assessment dan rekomendasi yang dilakukan AICHR.
 
Mengenai agenda pertemuan bilateral dengan Menlu Malaysia, Dato’ Seri Anifah Aman, Menlu Retno menyampaikan bahwa Indonesia akan mendorong pertemuan kedua utusan khusus perbatasan maritim kedua negara untuk segera  dimulai guna mempercepat penyelesaian negosiasi batas maritim antara Indonesia dan Malaysia.
 
Selain itu, Indonesia juga akan melakukan compare notes terkait migran Bangladesh dan Myanmar yang ditampung sementara oleh kedua negara, seperti melihat apa yang sudah dilakukan Indonesia dan apa yang sudah dilakukan Malaysia selama ini.

(FR)
Akses berita terbaru versi mobile di: m.mahardikanews.com
Tinggalkan Komentar
Nama*:
Email*:
Website:
Komentar*:
: * Masukkan kode disamping!