Jum'at, 14 Agustus 2020
Find us: 
mahardikanews.com, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik
Home  / Internasional
Minggu, 26 April 2020 | 10:43:13
202.000 Orang meninggal di seluruh Dunia akibat Virus Corona
MAHARDIKANEWS TIM
Ilustrasi Corona Virus Disease (COVID-19) di bumi dunia/ net.

WASHINGTON DC 

(mahardikanews) 

Universitas John Hopkins mendata ratusan ribu orang meninggal di seluruh dunia akibat pandemi corona virus disease 2019 (COVID-19).


Universitas tersebut mengklaim lebih dari 202.000 orang tepatnya 202.864 korban meninggal karena pandemi COVID-19 yang terjadi di seluruh dunia atau di semua negara. Sementara situs Worldometers juga mengglobalkan 2,9 juta orang telah terinfeksi. Angka itu muncul setelah Amerika Serikat (AS) mencatat lebih dari 50.000 korban meninggal, sekaligus menjadi negara paling terdampak di dunia.


Sejak kematian pertama di China karena virus corona yang terjadi pada 11 Januari lalu, lebih dari 200 negara dan teritori kini sudah melaporkan kasus positif. Berdasarkan laporan media BBC News, Sabtu (25/4), negara AS, Italia, Spanyol, Perancis, dan Inggris, menjadi negara dengan angka kematian tertinggi di dunia.


Menteri Dalam Negeri Inggris Priti Patel, menilai sebanyak 20.000 orang yang mengembuskan napas terakhir di rumah sakit seluruh negara dari data pengumuman Kementerian Kesehatan Inggris pada Sabtu, merupakan peristiwa Tragis dan Menakutkan. Negara dinilainya saat ini sedang sangat berduka.


Menurut Priti Patel, karena angka itu tidak menyertakan data mereka yang meninggal di rumah atau panti jompo, diperkirakan jumlahnya bakal lebih tinggi kedepan.


Lalu negara Perancis yang datanya mencakup korban yang difasilitasi perawatan lanjut usia atau lansia, mencatat adanya kenaikan hingga 369 kematian pada Sabtu. Dari jumlah total, terdapat 22.614 mortalitas sejak Maret, namun Perancis yang beribukotakan Paris itu mengemukakan angka korban di rumah sakit mulai mengalami penyusutan. Selain itu, pemerintah setempat mengklaim jumlah pasien yang dirawat di ruang perawatan intensif menurun dalam 17 hari terkahir.


Badan Kesehatan Dunia atau world health organization (WHO) di awal pekan ini menerangkan terdapat tren kenaikan Afrika, Eropa Timur, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.


Direktur Jenderal Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengklaim pandemi di kawasan barat Eropa mulai stabil atau menunjukkan penurunan. Faktanya berkebalikan di sejumlah negara yang mulai mengumumkan adanya penambahkan kasus positif COVID-19.


Sementara beberapa negara lainnya yang sempat terpapar parah di awal wabah kini mulai memperlihatkan adanya kenaikan kembali, salah satunya Singapura yang sempat mendapat pujian karena dianggap bisa menangani penyakit yang pertama terdeteksi di Wuhan itu. Tetapi kini Singapura kembali direpotkan atas melonjaknya infeksi, terutama di sektor industrial dan pekerja yang tinggal di asrama.


Masih di Asia, China yang merupakan episentrum awal virus corona tidak melaporkan adanya kematian selama 10 hari terakhir. Sedangkan Korea Selatan yang saat ini sudah memasuki hari kedua tidak mengumukan mortalitas baru.
(red-mnc)





Editor: AMBAR

2020 MAHARDIKANEWS

all right reserved

Akses berita terbaru versi mobile di: m.mahardikanews.com
Tinggalkan Komentar
Nama*:
Email*:
Website:
Komentar*:
: * Masukkan kode disamping!