Sabtu, 16 Desember 2017
Find us: 
mahardikanews.com, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik
Home  / Opini
Selasa, 28 Juli 2015 | 14:40:27
Tenaga Kerja Sumut (Berpeluang) di Era ASEAN Community
Oleh: A. Frian. R
A Frian R
SETIAP bangsa menginginkan perubahan perekonomian ke arah yang lebih baik. Termasuk Indonesia yang turut ambil bagian dalam kesepakatan dengan sembilan negara lainnya membentuk ASEAN Community 2015 atau Komunitas ASEAN 2015. Upaya ini merupakan percepatan eksternal peningkatan pertumbuhan ekonomi secara nasional dan bersaing dengan negara lain. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu faktor sumber daya manusia, faktor sumber daya alam, faktor ilmu pengetahuan dan teknologi, faktor  budaya dan faktor daya modal.

Kini, ASEAN Community berada di depan mata, setuju atau tidak setuju semua harus menerima dan menjalaninya. ASEAN Community menyepakati untuk kerjasama di tiga bidang, yaitu pertahanan keamanan, ekonomi dan sosial budaya. Meski di tengah masyarakat yang santer dibicarakan adalah tentang ekonomi.

Di waktu yang cukup singkat, Indonesia khususnya Sumut harus mampu memenuhi kriteria yang diharapkan dalam kesepakatan tersebut. Di sisi lain, juga harus memberikan solusi agar nantinya tidak tertindas akibat keberadaan kesepakatan tersebut. Tidak hanya menjadi sasaran masuknya produk-produk negara anggota ASEAN.

Belajar dari pengalaman pelaksanaan free trade agreement (FTA) dengan China, akibatnya China menguasai pasar komoditi Indonesia. Tidak ada pilihan lain selain menghadapi dengan percaya diri bahwa bangsa Indonesia mampu dan menjadi lebih baik perekonomiannya dalam keikutsertaan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 ini.

Sebagai upaya penangkal, pemerintah harus lebih menjamin perlindungan terhadap konsumen, adanya bantuan modal  bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah, memperbaiki kualitas produk dalam negeri dan memberikan label SNI bagi produk dalam negeri. Dalam sektor tenaga kerja Indonesia perlu meningkatkan kualifikasi pekerja, meningkatkan mutu pendidikan serta pemerataannya dan memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat. Selain itu, perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat luas mengenai adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 sehingga mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan kita akan mampu menghadapi berbagai macam tantangan dalam. Apabila kita mempunyai daya saing yang kuat, persiapan yang matang, sehingga produk-produk dalam negeri akan menjadi tuan rumah dinegeri sendiri dan kita mampu memanfaatkan kehadiran, untuk kepentingan bersama dan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Kebutuhan tenaga kerja serta produk yang akan dibutuhkan era ASEAN Community, menjadi modal bagi bangsa ini lebih siap. Termasuk dunia pendidikan yang akan lebih fokus menerbitkan lulusan-lulusan yang benar-benar dengan keahlian dan kemampuan yang dibutuhkan pasar.

Tingginya pengangguran di negara ini, bukan saja karena rendahnya ketersediaan lapangan kerja. Melainkan masih rendahnya tingkat penguasaan keahlian suatu bidang ilmu. Tentu, kualifikasi demikian akan sulit untuk diterima bekerja di posisi keahlian sebagaimana dibutuhkan. Di sisi lain, kemauan untuk berwirausaha sangat rendah, akibat rendahnya jaminan dari negara untuk produk dalam negeri.

Tidak dipungkiri, beberapa sektor usaha dalam negeri yang memproduksi barang justru unggul di dunia internasional. Namun, jumlahnya belum sebanding dengan jumlah penduduk dan potensi usaha yang ada. Negara ini adalah negara yang kaya akan potensi alam dan sumber daya manusia.

Dalam Sumut Discussion Club II di Medan, Kamis (27/5), Direktur Pusat Studi Ekonomi Rakyat (Pusera), Dr RE Nainggolan MM menyampaikan bahwa pengelolaan SDM menjadi suatu peluang baik bagi Indonesia. Dengan jumlah penduduk 250 juta, menjadi populasi penduduk yang dominan di antara 9 negara lainnya. Dengan memaksimalkan tenaga kerja professional dan tenaga ahli yang handal, maka tidak akan sulit menghadapi era ASEAN Community. Sependapat, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sumatera Utara Drs Bukit Tambunan MAP, sekarang ini yang dituntut adalah kualitas, karena kedepan kita tidak lagi berbicara tentang Sumber Daya Alam (SDA) dalam menghadapi MEA, tapi bagaimana SDM bisa punya potensi.

Sumatera Utara saat ini memiliki jumlah penduduk usia kerja 8.931.423 orang (67,07%) dengan angka penganggur terbuka 391 ribu orang (6,23%), dan angkatan kerja 6.272.000 orang.  Sesuai dengan kesepakatan 10 negara ASEAN, ada delapan profesi yang berlaku secara luas yaitu engginering, arsitek, perawat, tenaga surveyor, tenaga pariwisata, praktisi medis, dokter gigi, dan akuntan. Sangat disayangkan, sesuai data dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dari 15 ribu tena kerja yang dikirim ke luar negeri dari Sumut, hanya 1 % sarjana dan 3 % Diploma.

Wakil Ketua Umum Bidang Tenaga Kerja Kadin Indonesia, Benny Soetrisno dalam Seminar Kesiapan Tenaga Kerja dalam Menghadapi Pasar ASEAN pada Selasa (25/06) di Ruang SG 1-5 Gedung Bappenas, menyatakan bahwa Kadin telah menyiapkan tiga program dalam rangka menghadapi MEA 2015 yang juga mendukung MP3EI: 1) Identifkasi kebutuhan tenaga kerja profesional/terampil untuk mendukung 22 kegiatan ekonomi di enam koridor ekonomi dan meningkatkan daya saing 12 sektor prioritas MEA 2015; 2) Memfasilitasi pengembangan standar kompetensi dan pembentukan lembaga sertifikasi profesi (LSP) oleh Asosiasi Industri terkait 22 kegiatan ekonomi di koridor ekonomi dan 12 sektor prioritas MEA 2015; serta 3) Pengembangan Kadin Training Center (KTC) untuk mendorong pengembangan program pelatihan berbasis kompetensi sesuai kebutuhan industri oleh Kadin Provinsi.

Selanjutnya, pihaknya telah menginventaris 12 sektor prioritas MEA 2015 yang disebut free flow of skilled labor (arus bebas tenaga kerja terampil) yaitu: perawatan kesehatan (health care), turisme (tourism), jasa logistik (logistic services), E-ASEAN, jasa angkutan udara (air travel transport), produk berbasis agro (agrobased products), barang-barang elektronik (electronics), perikanan (fisheries), produk berbasis karet (rubber based products), tekstil dan pakaian (textiles and apparels), otomotif (automotive), dan produk berbasis kayu (wood based products).

Pada posisi mana tenaga kerja Sumut akan ambil alih, menjadi tanggungjawab bersama. Dimana tenaga kerja saat ini, dengan jumlah pengangguran terbuka 6,23 % harus berbenah agar tidak menjadi penonton di negeri sendiri. Pemerintah harusnya mengambil langkah cepat, terutama untuk membenahi tenaga kerja yang kini diambang ‘kebingungan, kecemasan dan berbagai konflik’, terutama untuk menekan angka kriminalitas yang semakin terdesak akibat tuntutan kebutuhan. Pemerintah harus mengantisipasi ketimpangan yang semakin mencolok yang nantinya mengarah kepada tindak kriminal.

Aristoteles dan  Thomas Van Aquino mengemukakan bahwa kemiskinan menyebabkan terjadinya kejahatan. Kemelaratan mendorong orang berbuat jahat. Begitupun juga dengan gelandangan dan pengangguran akan menimbulkan kejahatan. Ada beberapa alasan penting, mengapa kemiskinan perlu mendapat perhatian untuk ditanggulangi (Prijono Tjiptoherijanto, 1997). Pertama, kemiskinan merupakan kondisi yang kurang beruntung karena bagi kaum miskin akses terhadap perubahan politik institusional terbatas. Kedua, kemiskinan merupakan kondisi yang cenderung menjerumuskan orang miskin ke dalam tindak kriminalitas. Ketiga, bagi pembuat kebijaksanaan, kemiskinan itu sendiri mencerminkan kegagalan pelaksanaan pembangunan yang telah dihadapi pada masa lampau.(*)
Akses berita terbaru versi mobile di: m.mahardikanews.com
Tinggalkan Komentar
Nama*:
Email*:
Website:
Komentar*:
: * Masukkan kode disamping!