Selasa, 22 Oktober 2019
Find us: 
mahardikanews.com, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik
Home  / Pendidikan
Rabu, 9 Oktober 2019 | 09:50:50
Aneh bin Ajaib Terjadi di SMPN 8 KD Rokan Hulu Riau
Seorang Siswa Sudah Dinyatakan Lulus Kemudian Dibatalkan Lagi

Rokan Hulu (Mahardikanews.com) Tujuan Pendidikan Nasional Menurut Undang-Undang No 20 Tahun 2003, adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Jika kita mendapatkan pendidikan, maka kita akan mempunyai motivasi untuk menjadi seseorang yang lebih baik dalam semua aspek kehidupan. Pendidikan adalah salah satu persyaratan untuk memajukan bangsa ini sehingga pendidikan harus dimulai sejak dini mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Namun demikian, sepertinya masih ada oknum guru (Kepala SMPN) yang kurang memahami dan menghayati tujuan pendidikan nasional tersebut.
Hal itu adalah terkait yang disampaikan oleh MZ kepada Mahardikanews.com, Sabtu (21/9/2019) di Ujungbatu, anaknya WZ hingga saat ini menjadi putus sekolah setelah dikeluarkan secara tidak langsung dari SMK T Ujungbatu Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) Provinsi Riau pada tahun 2018 yang lalu, dan ini semua adalah akibat tindakan gegabah dari kepala Sekolah (Kasek) SMPN 8 KD Kabupaten Rohul Riau yakni Y.
Lebih jauh disebutkan MZ, berawal dari Surat Keterangan Kelulusan tertanggal 28 Mei 2018 yang dikeluarkan dan ditandatangani Kepala SMPN 8 KD Kabupaten Rokan Hulu (Rohul)  Provinsi Riau yakni Y,  yang menyatakan anaknya WZ Lulus. Kemudian mendaftar ke SMK T Ujungbatu, dan diterima menjadi Siswa di SMK tsb setelah membayar angsuran I Rp1.020.000,- dari total biaya administrasi pendaftaran yang ditetapkan sekolah sebesar Rp1.820.000,-

Masalah muncul kemudian, setelah anaknya mengikuti proses belajar selama kurang lebih tiga bulan, pihak SMK T meminta copy ijazah yang dilegaliser sekolah asal yakni SMPN 8 kepada siswa WZ. Satu hari setelah itu MZ orangtua siswa WZ menemui pihak SMK T tersebut. Saat pertemuan dengan Wakil Kepala Sekolah, MZ mendapat copi surat keterangan dari SMPN 8 KD tertanggal 11 Juni 2018 yang menyatakan anaknya WZ tidak lulus, copy surat tersebut diserahkan guru SMK T Ujungbatu.

Kesimpulan pada pertemuan itu,
proses belajarnya baru bisa diteruskan jika WZ dapat membawa copy ijazah yang dilegalisir. Jadi Aneh bin Ajaib anak saya yang sudah dinyatakan lulus melalui Surat Keterangan Lulus (SKL) yang ditandatangani Kepala SMPN 8 KD yakni Y, kemudian dibatalkan lagi melalui surat keterangan yang ditandatangani kepala sekolah tersebut, ungkap MZ. Juga secara tak langsung anak saya WZ dikeluarkan dari SMK T Ujungbatu, dan sudah setahun lebih anak saya tersebut tidak sekolah, dan hati saya sangat teriris jika melihat teman-temannya berangkat ke sekolah, ucap MZ dengan nada terharu.
Kemudian masih menurut MZ, yang membuat dirinya bertanya-tanya adalah karena lima orang siswa seangkatan/setamatan anaknya disekolah tersebut yang nilainya lebih rendah dari nilai anaknya diluluskan. Selain itu pihak sekolah menukar salah satu lembaran buku raport anaknya, yang sudah ditandatangani olehnya sebagai orangtua siswa, membuatnya semakin curiga karena ada kemungkinan nilai anaknya ditukangi menjadi nilai rendah.

Ditanya lebih jauh tentang kemungkinan keluarnya surat keterangan tidak lulus, MZ kepada Mahardikanews.com menyebutkan ada dugaan karena Kasek Y sakit hati. Pasalnya HP anak saya yang sempat ditahan Kasek Y saya minta kembali, itupun sesuai janji Kasek bahwa HP tersebut akan dikembalikan setelah selesai ujian. Dan pada saat pengembalian HP itu, sempat terjadi ketegangan yang intinya sang Kasek berat hati menyerahkannya dengan ucapan masak bapak minta juga HP nya anak bapak sudah saya selamatkan, ungkap MZ menirukan ucapan Kasek.

Ditanya apa harapannya, MZ mengungkapkan agar pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Kabupaten Rokan Hulu dapat mengambil keputusan yangl seadil-adilnya terutama terhadap anaknya WZ yang sudah menjadi korban putus sekolah, yang pada intinya anaknya bisa melanjutkan sekolah lagi sesuai tingkatannya. Demikian juga kepada Kepala SMPN 8 KD yang bertindak semena-mena dan gegabah agar diberikan sanksi sebagai konsekwensinya. Tindakan semena-mena yaitu, pertama mengeluarkan surat keterangan yang menyatakan lulus, kemudian mengeluarkan surat keterangan lagi yang menyatakan anaknya tidak lulus. Dan juga yang menukar lembaran buku raport anak saya,  pungkasnya.

Menjawab pertanyaan tentang dikeluarkannya surat keterangan yang menyatakan WZ Lulus, kepada Mahardikanews.com Kepala SMPN 8 KD, Y menjelaskan,
1. Orangtua WZ menemui wali kelas dan kepala sekolah minta anaknya diluluskan berapun dibayar
2. Orangtua WZ membawa anggota LSM yakni H, dan menggertak-gertak sehingga pegawa Tata Usaha salah membuat surat keterangan, dan dirinyapun dalam keadaan gugup karena sang ayah baru MD sehingga tidak fokus memeriksa administrasi
3. Terkait 5 orang siswa Lulus yang nilainya lebih rendah dari nilai WZ itu adalah nilai UN (ujian nasional) yang tidak menentukan kelulusan. Karena dalam undang undang pendidikan nilai sikap yang utama
4. Terkait lembaran buku raport yang ditukar, karena wali kelas salah memasukkan data. Data siswa lain dimasukkan ke lembaran buku raport WZ. 

Untuk Surat Keterangan yang nenyatakan WZ, Tidak Lulus Kepala Sekolah Y memaparkan, 

1. Berdasarkan musyawarah guru, siswa WZ tidak lulus berpedoman terhadap undang-undang pendidikan
2. Nilai sikap anak tidak baik, jadi nilai sikap WZ yang kena. Nilai sikap yang tidak baik, yaitu berungkali merokok di lingkungan sekolah. Membawa Hand Phone berisi film porno, orang telanjang berhubungan suami istri ditonton temannya dibawah pohon pisang/lingkungan sekolah. Mencuri uang dan rokok di kios warga, kemudian ditangkap dan diboyong warga ke sekolah.

Sedangkan Kepala Sekolah SMK T Ujungbatu melalui Wakil Kepala Sekolah, N terkait berhentinya WZ dari sekolah tersebut menyebutkan, pihak sekolah tidak pernah memberhentikan WZ tetapi karena tidak memiliki Ijazah maka pihak sekolah minta supaya segera diuruskan. Sebelumnya mendaftar ke SMK T Ujungbatu menggunakan surat keterangan dari SMPN 8 KD yang menyatakan WZ Lulus. Tapi kemudian siswa WZ tersebut tidak dapat menyerahkan legaliser ijazah dan data pokok pendidikan (Dapodik) nya tidak dapat ditarik secara online, dan itu adalah hak sepenuhnya SMPN 8 KD, artinya tidak ada kewenangan kami untuk mempertanyakannya kepada pihak sekolah tersebut, ungkapnya.

Kadisdikpora Kabupaten Rokan Hulu Drs Ibnu Ulya MSI,  yang diminta Tanggapannya seputar kasus tsb, menyebutkan, bahwa lulus tidaknya siswa adalah hak penuh dari pihak sekolah. Terkait keluarnya surat keterangan Lulus yang menjadi dasar siswa WZ mendaftar ke salah satu SMK di Ujungbatu, dan beberapa minggu kemudian keluar lagi surat keterangan Tidak Lulus, hal itu sudah diakui Kepala Sekolah Y kepada pihak Kepolisian yakni Kepolisian Resor Rokan Hulu (Polres Rohul), Polda Riau, ungkap Kadis

Kapolres Rokan Hulu AKBP Dasmin Ginting SIK, yang ditanya tentang perkembangan kasus dugaan perkara Pemalsuan Surat, yang telah dilaporkan Martinus Zega (MZ) pada 17-9-2018 (1 tahun 20 hari) ke Polres Rohul dan terkesan mengambang, kepada Mahardikanews.com Kapolres menyebutkan, informasi dari anggota yang menangani kasus tersebut memang tahapanya masih dalam proses pak, semua proses dilakukan sesuai mekanisme penanganan perkara, sementara waktu yang dibutuhkan setiap perkara berbeda beda tergantung dari kompleksitasnya pak...trims, ungkap Kapolres yang baru dua minggu menjabat itu.

Salah seorang mantan Kepala Sekolah yang saat ini sebagai anggota Legislatif, Drs Sozifao Hia MSi yang diminta pendapatnya seputar kasus tersebut, menandaskan, 
"Tidak ada kriteria sikap moral untuk kelulusan, karena SMPN 8 KD itu bukan lembaga keagamaan. Seharusnya jika moral si anak tidak bagus maka anak ini tidak usah lagi diikutkan ujian atau sebelum ujian anak ini sudah dipecat. Tetapi anak ini sudah mengikuti ujian dan hasilnya cukup bagus". Seandainya kepala sekolah tidak senang lalu anak ini tidak diluluskan itu adalah hak sekolah. Tetapi ini surat keterangan lulus sudah keluar yang menyatakan anak lulus dan dalam daftar pengumuman lulus nama anak ini juga ada.
Yang kita permasalahkan sekarang adalah kepala sekolah gegabah, itu sama dengan membunuh karakter anak, masa depan anak dipotong, ini suatu perbuatan yang tidak benar dan tidak mendidik.
Dengan menggunakan SKL Lulus mendaftar di SMK kemudian keluar lagi surat keterangan dari SMPN 8 KD yang menyatakan tidak lulus dan tentu anak dipermalukan di SMK tersebut. Ini adalah suatu kecerobohan ungkap mantan guru yang mengaku sepuluh tahun lebih sebagai kepala sekolah di
RAPP (Riau Andalan Pulp and Paper) Pelalawan Riau, yang saat ini sebagai anggota DPRD Pelalawan. (mar)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.mahardikanews.com
Tinggalkan Komentar
Nama*:
Email*:
Website:
Komentar*:
: * Masukkan kode disamping!