Kamis, 16 Agustus 2018
Find us: 
mahardikanews.com, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik
Home  / Peristiwa
Selasa, 18 Agustus 2015 | 09:43:40
Dialog Pencegahan Radikalis Terorisme
Semua Elemen Tangkal Ancaman Radikalisme dan Terorisme


TANGKAL TERORISME. Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi berfoto bersama dengan Kepala Kesbanglinmaspol Sumut Drs Eddy Syofian, Sekertaris FKPT Sumut Zulkarnaen, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh adat dalam acara Dialog Pencegahan Radikalis Terorisme di Kalangan Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat dan Budaya Sumut yang di gagas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumut di Hotel Grand Kanaya, Jl Darussalam Medan, Sabtu (15/8/2015).
Medan, mahardikanews.com - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Ir H Tengku Erry Nuradi MSi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk merapatkan barisan dalam upaya mencegah dan menangkal radikalisme dan terorisme.

Ajakan tersebut dikemukakan Tengku Erry Nuradi dalam acara Dialog Pencegahan Radikalis Terorisme di Kalangan Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat dan Budaya Sumut yang di gagas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumut di Hotel Grand Kanaya, Jl Darussalam Medan, Sabtu (15/8/2015).

Hadir dalam acara itu Kepala Kesbanglinmaspol Sumut Drs. Eddy Syofian M.Ap, Sekertaris FKPT Sumut, Zulkarnaen, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan puluhan peserta lainnya.

Dalam kesempatan itu, Erry menegaskan, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan semua elemen masyarakat, merupakan garda terdepan sekaligus memiliki peran strategis dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat awam akan bahaya radikalisme dan terorisme.

“Kita harus mampu memberikan pemahahaman bahawa perbedaan keyakinan, perbedaan suku, adat istiadat dan budaya, serta perbedaan pandangan politik, merupakan anugrah yang harus kita syukuri. Perbedaan itu justeru membuat Sumatera Utara kaya akan keberagaman,” ujar Erry.

Namun, sebut Erry, perbedaan itu harus melebur dalam kebersamaan. Jika tidak, perbedaan akan menjadi jurang pemisah yang dapat mengancam stabilitas keamanan dan kondusifitas bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Mari kita saling isi ditengah perbedaan yang ada. Pelangi itu indah karena dihiasi banyak warna. Itulah Sumatera Utara,” sebut Erry.

Tidak lupa Erry menyatakan apresiasi kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat yang responsif dalam upaya menangkal dan mencegah radikalisme dan terorisme di Sumut.

Dengan adanya pemahaman yang sama, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh adat, dapat mengidentifikasi potensi ancaman radikalisme dan terorisme di lingkungan masyarakat sekaligus membantu negara dalam upaya pencegahan terorisme.

“Saya berharap, Sumatera Utara menjadi contoh akan indahnya kebersamaan. Selain itu, kebersamaan efektif menciptakan suasana kondusif bagi masyarakat,” puji Erry.

Sementara Kepala Kesbanglinmaspol Sumut, Drs Eddy Syofian M.Ap  berharap kepada seluruh komponen masyarakat di Sumut untuk tetap bersatu menjaga kondusifitas keamanan dan keharmonisan. Jangan sampai intoleransi beragama seperti tragedi Tolikara terjadi di Sumut.

“Kita berharap, semua lapisan masyarakat tidak memberikan ruang gerak sedikitpun kepada palaku onar berupa aksi radikalisme dan terorisme terjadi di Sumut. Kita harus melakukan antisipasi secara dini,” ajak Eddy.

Sekertaris FKPT Sumut, Zulkarnaen menyatakan, dialog tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturrahmi, tetapi lebih dari itu, menjadi landasan kerjasama tokoh agama, tokoh masyrakat dan tokoh adat dalam mencegah aksi terorisme dan radikalilsme.

“Sinergitas kelompok masyarakat itu mutlak dilakukan, mengingat korban aksi kejahatan radikalisme dan terorisme bisa siapa saja, tanpa memilih latar belakang agama, suku maupun etnis budaya,” ujar Zulkarnaen.

Dialog itu juga diharapkan memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang konsep dan bahaya paham radikalisme dan terorisme yang secara tersembunyi tumbuh di tengah masayarakat.

“Sejumlah tema yang biasa digunakan kelompok radikal untuk dalam menghasut masyarakat, seperti pemelintiran makna jihad. Dalam dialog, tema-tema agama yang sering disalahtafsirkan tersebut akan diekplorasi dan diluruskan oleh sejumlah pakar kompeten,” tambah Zukarnaen

(FR)



Akses berita terbaru versi mobile di: m.mahardikanews.com
Tinggalkan Komentar
Nama*:
Email*:
Website:
Komentar*:
: * Masukkan kode disamping!