Senin, 17 Desember 2018
Find us: 
mahardikanews.com, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik
Home  / Peristiwa
Minggu, 22 Juli 2018 | 10:42:26
TERUNGKAP! Permainan Fasilitas Mewah Lapas Sukamiskin
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)/ internet 

JAKARTA

(MahardikaNews)

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan Wahid Husein, atas dugaan korupsi pemberian fasilitas dan izin khusus bagi sejumlah narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Jl. A. H. Nasution, Cisaranten Bina Harapan, Arcamanik, Kota Bandung, Jawa Barat.

Wakil Ketua KPK, Laode Muhammad Syarif, mengatakan penyelidikan kasus tersebut berawal dari informasi masyarakat terkait adanya dugaan jual beli sel tahanan dan jual beli izin keluar lapas.

KPK sebelumnya menyatakan memulai menyelidiki kasus sejak bulan April 2018. Setelah berhasil mengumpulkan sejumlah data dan bukti, KPK akhirnya melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT), pada Jumat (20/7) malam hingga Sabtu (21/7) dini hari.

Informasi yang dihimpun, Kronologi OTT Kalapas Sukamiskin Wahid Husein dan lima orang lainnya dari jumpa pers pimpinan KPK, Sabtu malam, sebagai berikut:

Tim KPK menangkap Wahid dan istrinya Dian Anggraini, di kediaman mereka di Bojongasang, Bandung, Jumat (20/7) pukul 22.15 WIB. KPK juga mengamankan mobil Mitsubishi Triton Exceed warna hitam, mobil Mitsubishi Pajero Sport Dakar warna hitam, uang sebesar Rp 20.505.000 dan 410 Dolar AS. Setelah itu, Wahid dan istri langsung dibawa ke Lapas Sukamiskin.

Kemudiann, KPK menangkap Hendry Saputra, staf Wahid di kediamannya di Rancasari, Bandung Timur, Sabtu (21/7) pukul 00.00 WIB. Saat itu, KPK mengamankan uang Rp27.255.000. Ia juga dibawa tim ke Lapas Sukamiskin.

Di waktu yang sama, KPK lalu menangkap narapidana korupsi Fahmi Darmawansyah di selnya. KPK mengamankan uang sebesar Rp 139.300.000 dan sejumlah catatan sumber uang.

Menurut KPK, Fahmi pelaku utama yang menyuap Wahid, untuk mendapatkan fasilitas dan izin khusus untuk keluar lapas. KPK memiliki bukti dengan menemukan fasilitas mewah seperti AC, kulkas, televisi, di sel Fahmi.

KPK selanjutnya bergerak menuju sel Andri Rahmat, napi kasus Pidana Umum yang diduga membantu Fahmi melancarkan aksinya menyuap Kepala Lapas. Andri juga diamankan, beserta sejumlah uang senilai Rp92.260.000, 1.000 Dolar AS, dan dokumen pembelian dan pengiriman mobil Mitsubishi Triton berikut kuncinya. Dilokasi sel Andri, KPK juga menemukan sejumlah telepon genggam.

KPK lalu menuju ke-3 sel atas nama narapidana Charles Jones Messang, Fuad Amin, dan Tubagus Chaeri Wardana. Namun keberadaan Fuad dan Tubagus tidak diketahui sehingga sel mereka disegel oleh KPK.

Tim membawa Wahid dan istrinya, Hendry, Fahmi dan Andri ke Gedung KPK untuk pemeriksaan pertama.

Tim KPK menuju kediaman istri Fahmi, yaitu Inneke Koesherawati di Menteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu (21/7) pukul 00.30 WIB. Tim mengamankan Inneke dan membawanya ke Gedung KPK untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

KPK menggelar jumpa pers dan mengumumkan Wahid, Fahmi, Hendry dan Andri sebagai tersangka, Sabtu (21/7) pukul 20.00 WIB. KPK mempublikasikan Wahid dan stafnya sebagai penerima suap, dan diduga melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 atau Pasal 12 B UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sedangkan Fahmi dan Andri sebagai penyuap, disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf atau huruf atau Pasal 13 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Keempat orang tersebut juga sudah ditahan oleh KPK. Sementara istri Wahid dan Fahmi yang berstatus sebagai saksi sudah dilepas oleh lembaga antirasuah.*amb

Akses berita terbaru versi mobile di: m.mahardikanews.com
Tinggalkan Komentar
Nama*:
Email*:
Website:
Komentar*:
: * Masukkan kode disamping!