Sabtu, 20 Oktober 2018
Find us: 
mahardikanews.com, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik
Home  / Religion
Sabtu, 29 September 2018 | 22:36:30
Guru Agama Kristen di Rokan Hulu Minim Dan Masih Status Honor
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Rokan Hulu, Drs H Syahrudin M.Sy/
Pasir Pengaraian
(mahardikanews)
Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Rokan Hulu, mendata puluhan tenaga pengajar atau guru Agama Kristen‎ disetiap sekolah belum mencukupi dengan jumlah ratusan sekolah yang berada di Rokan Hulu.

"Guru Agama Kristen masih kurang. Saat ini baru tersedia sekitar 80 guru Agama Kristen, dari ratusan sekolah yang ada di 16 Kecamatan", ucap Kepala Kantor Kemenag Rokan Hulu Drs Syahrudin, Kamis (27/9/2018), saat pembinaan Guru Pendidikan Agama Kristen se-Kabupaten, di Sapadia Hotel Pasir Pengaraian.

Syahrudin mengatakan, banyaknya sekolah yang kekurangan guru Agama Kristen tersebut juga masih berstatus pegawai honorer atau non Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kepada para guru non PNS, Ia menghimbau agar bersabar, bekerja dengan baik, menjaga kredibilitas dan tetap disiplin saat prosesi mengajar.

Syahrudin berharap, Pemerintah kedepannya agar mengangkat guru Agama Kristen dalam menanggulangi‎ kebutuhan guru-guru disetiap sekolah, meski CPNS tahun 2018‎ tidak terdapat penerimaan untuk formasi guru Agama Kristen.

"Kedepan, kiranya ini akan tetap jadi perhatian Kemenag RI, untuk mengangkat guru-guru Agama Kristen‎", harap Syahrudin, dihadapan Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Kristen Kantor Wilayah Kemenag Riau, Sahat Lambok Sihombing.

Disamping itu, Kepala Seksi Penyelenggaraan Kristen Kemenag Rokan Hulu Jernih Simatupang, menerangkan tentang sekolah yang tidak memiliki guru Agama Kristen akan berdampak kepada murid yang tidak akan mendapatkan pendidikan agama.‎

Jenih dalam kesempatan itu juga memberikan pemahaman kepada guru Agama Kristen‎ tentang regulasi yang berlaku saat ini, yakni menyangkut sertifikasi guru, serta keterlibatan memiliki kode referensi Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan‎ (NUPTK).

Ia menilai, pembinaan-pembinaan untuk memiliki sertifikasi serta NUPTK memang harus dibuktikan dalam bimbingan, tidak cukup hanya dengan mendapatkan dan menerima sekilas informasi saja.*amb
Akses berita terbaru versi mobile di: m.mahardikanews.com
Tinggalkan Komentar
Nama*:
Email*:
Website:
Komentar*:
: * Masukkan kode disamping!